Jakarta, 13 September 2026 – Perang Amerika Serikat melawan Iran memberikan tekanan besar terhadap persediaan senjata dan kesiapan militer Washington setelah operasi berlangsung dalam intensitas tinggi. Laporan pengawas Departemen Pertahanan AS mengungkap konflik tersebut menyebabkan kekurangan pada sejumlah jenis amunisi sekaligus menimbulkan kerugian besar terhadap pesawat dan fasilitas militer. Empat jet tempur F-15 dilaporkan hancur dalam rangkaian operasi terkait perang tersebut. Tiga di antaranya hilang akibat insiden salah tembak pada awal konflik, sedangkan satu F-15 lainnya jatuh ketika menjalankan operasi di wilayah Iran. Kerugian tidak terbatas pada jet tempur karena berbagai pesawat, drone, dan infrastruktur militer Amerika juga mengalami kerusakan. Situasi tersebut menunjukkan perang berkepanjangan memberikan tekanan besar terhadap kemampuan militer AS mempertahankan tingkat operasi tinggi.
Laporan tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya penggunaan amunisi sejak konflik meningkat pada 2026. Operasi ofensif membutuhkan rudal dan bom berpemandu dalam jumlah besar untuk menyerang sasaran militer Iran. Pada saat bersamaan, Amerika Serikat harus menggunakan banyak rudal pertahanan udara untuk menghadapi serangan balasan berupa rudal balistik dan drone. Tingginya konsumsi membuat persediaan beberapa jenis senjata menurun lebih cepat dibandingkan kemampuan industri pertahanan menggantikannya. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai kesiapan menghadapi konflik lain apabila perang berlangsung lebih lama. Pentagon harus menyeimbangkan kebutuhan operasi saat ini dengan kewajiban mempertahankan cadangan strategis.
Empat F-15 menjadi salah satu kerugian penting yang tercatat sepanjang konflik. Tiga F-15E Strike Eagle Amerika Serikat jatuh pada 2 Maret dalam insiden salah tembak ketika beroperasi di wilayah udara Kuwait di tengah situasi pertempuran yang sangat kompleks. Awak dari ketiga pesawat tersebut dilaporkan berhasil menyelamatkan diri. Kerugian lainnya terjadi pada awal April ketika sebuah F-15E ditembak jatuh saat menjalankan misi di wilayah udara Iran. Dua awak pesawat berhasil melontarkan diri sebelum kemudian menjadi sasaran operasi pencarian dan penyelamatan yang kompleks. Hilangnya empat pesawat tersebut menunjukkan risiko besar yang dihadapi penerbang bahkan ketika Amerika Serikat memiliki kemampuan udara yang sangat kuat.
Kerugian armada Amerika Serikat tidak berhenti pada F-15. Laporan mengenai dampak perang juga mencatat puluhan drone MQ-9 Reaper mengalami kerusakan atau hilang selama konflik. Sejumlah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 turut terdampak, sementara berbagai fasilitas di pangkalan militer Amerika di Timur Tengah menjadi sasaran serangan Iran. Kerusakan terhadap pesawat pendukung memiliki konsekuensi penting karena operasi udara jarak jauh sangat bergantung pada kemampuan pengisian bahan bakar di udara. Tanpa dukungan tersebut, jangkauan dan durasi operasi pesawat tempur dapat berkurang. Kerusakan berbagai aset secara bersamaan membuat kebutuhan perbaikan dan penggantian semakin besar.
Serangan Iran terhadap pangkalan Amerika Serikat juga memaksa militer melakukan penyesuaian terhadap jaringan logistiknya. Ratusan bangunan di fasilitas militer di sejumlah negara Timur Tengah dilaporkan rusak atau hancur akibat serangan. Kondisi tersebut membuat sebagian kegiatan logistik harus dialihkan menuju lokasi yang lebih jauh dan dinilai lebih aman. Pemindahan jalur pasokan menambah kompleksitas operasi karena bahan bakar, suku cadang, amunisi, dan berbagai kebutuhan pasukan harus menempuh perjalanan lebih panjang. Militer juga harus mempertahankan perlindungan terhadap fasilitas yang masih digunakan. Tekanan terhadap jaringan logistik menjadi salah satu konsekuensi terbesar dari perang yang berlangsung berbulan-bulan.
Persediaan rudal pertahanan udara menjadi perhatian khusus karena senjata tersebut dibutuhkan untuk melindungi pasukan dan fasilitas Amerika maupun sekutunya. Iran menggunakan kombinasi rudal dan drone yang membuat sistem pertahanan harus menghadapi ancaman dalam jumlah besar. Setiap rudal pencegat yang ditembakkan membutuhkan biaya tinggi dan tidak dapat digantikan dalam waktu singkat. Produksi sistem pertahanan modern melibatkan rantai pasok kompleks serta komponen yang membutuhkan waktu untuk dibuat. Akibatnya, peningkatan anggaran tidak secara otomatis membuat persediaan kembali penuh dalam hitungan minggu. Kapasitas industri menjadi faktor yang sama pentingnya dengan ketersediaan dana.
Tekanan terhadap stok amunisi Amerika sebenarnya telah menjadi perhatian sebelum perang Iran berlangsung. Washington sebelumnya mengirimkan persenjataan dalam jumlah besar untuk mendukung berbagai komitmen keamanan di sejumlah kawasan. Perang Iran kemudian mempercepat penggunaan senjata tertentu, terutama rudal pertahanan udara dan amunisi presisi. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Amerika Serikat menghadapi beberapa krisis militer secara bersamaan. Pentagon harus mempertimbangkan kebutuhan di Timur Tengah tanpa mengabaikan kesiapan di kawasan Indo-Pasifik maupun komitmen kepada sekutu. Persoalan tersebut membuat penguatan kapasitas produksi pertahanan menjadi agenda strategis bagi Washington.
Biaya finansial konflik juga meningkat seiring penggunaan senjata dan kerusakan berbagai aset. Operasi militer membutuhkan biaya untuk amunisi, bahan bakar, pemeliharaan pesawat, pengerahan personel, logistik, serta penggantian peralatan yang hilang. Kerusakan fasilitas diplomatik dan militer menambahkan kebutuhan anggaran untuk perbaikan. Evakuasi warga dan personel dari wilayah berisiko juga membutuhkan sumber daya besar. Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula tekanan terhadap anggaran pertahanan Amerika Serikat. Pemerintah kemudian menghadapi tantangan menentukan prioritas antara mempertahankan operasi dan mempercepat pengisian kembali persediaan senjata.
Industri pertahanan AS kini menghadapi tuntutan meningkatkan produksi untuk mengganti persenjataan yang digunakan selama perang. Namun, peningkatan kapasitas membutuhkan penambahan tenaga kerja, fasilitas produksi, bahan baku, serta kepastian kontrak dalam jangka panjang. Beberapa jenis rudal memiliki komponen khusus yang hanya diproduksi oleh sedikit pemasok sehingga kapasitas tidak dapat dinaikkan secara instan. Pentagon perlu bekerja dengan perusahaan pertahanan untuk mempercepat produksi sekaligus memperluas rantai pasok. Pemerintah juga harus memastikan peningkatan produksi tidak mengurangi standar kualitas dan keamanan. Kemampuan industri mengganti persediaan akan menjadi faktor penting dalam menentukan kesiapan militer setelah perang.
Pengakuan mengenai kekurangan amunisi dan kerugian empat F-15 memperlihatkan besarnya dampak perang Iran terhadap kekuatan militer Amerika Serikat. Konflik modern tidak hanya ditentukan oleh jumlah pesawat atau kemampuan teknologi, tetapi juga kemampuan mempertahankan pasokan senjata dalam operasi berkepanjangan. Washington kini menghadapi kebutuhan mengganti aset yang hilang, memperbaiki pangkalan, meningkatkan produksi amunisi, dan tetap mempertahankan kesiapan menghadapi ancaman di kawasan lain. Tekanan tersebut dapat mendorong perubahan dalam perencanaan stok serta kapasitas industri pertahanan Amerika pada tahun-tahun mendatang. Perang Iran sekaligus memberikan gambaran mengenai betapa cepatnya persediaan senjata modern dapat terkuras ketika menghadapi serangan rudal dan drone secara intensif. Kemampuan memulihkan persediaan akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kekuatan militer AS setelah konflik berakhir.