Jakarta, 12 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi BRICS yang digelar di India dan mendapat sambutan hangat dari Perdana Menteri Narendra Modi. Kehadiran Prabowo menjadi bagian penting dari keterlibatan Indonesia dalam forum negara-negara berkembang yang memiliki pengaruh semakin besar terhadap perekonomian dan geopolitik global. Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat hubungan dengan India sekaligus memperluas kerja sama dengan negara anggota BRICS lainnya. Prabowo dan Modi terlihat berinteraksi hangat ketika bertemu di lokasi penyelenggaraan konferensi. Sambutan tersebut mencerminkan hubungan Indonesia dan India yang terus dikembangkan melalui berbagai kerja sama strategis. KTT kali ini diharapkan menjadi ruang bagi Indonesia untuk menyampaikan kepentingan nasional sekaligus mendorong sistem kerja sama internasional yang lebih inklusif.
Kehadiran Indonesia dalam KTT BRICS memiliki arti tersendiri setelah posisi Jakarta di dalam kelompok tersebut semakin kuat. Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS pada Januari 2025, menjadikannya negara Asia Tenggara pertama yang bergabung sebagai anggota penuh kelompok tersebut. Keanggotaan itu membuka ruang diplomasi yang lebih luas bagi Indonesia untuk bekerja sama dengan berbagai kekuatan ekonomi berkembang. Pemerintah melihat BRICS sebagai salah satu forum yang dapat digunakan untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara Global South. Indonesia tetap mempertahankan politik luar negeri bebas aktif sehingga keterlibatan dalam BRICS tidak dimaksudkan untuk berpihak kepada blok geopolitik tertentu. Pendekatan tersebut memungkinkan Indonesia menjalin kerja sama dengan berbagai negara sekaligus mempertahankan kepentingan nasional.
Pertemuan Prabowo dan Modi turut menjadi perhatian karena Indonesia dan India memiliki hubungan bilateral yang semakin berkembang. Kedua negara merupakan kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik dengan jumlah penduduk yang besar serta kebutuhan pembangunan yang terus meningkat. Perdagangan, investasi, ketahanan pangan, energi, pertahanan, teknologi, dan kesehatan menjadi sejumlah sektor yang mempunyai ruang kerja sama luas. Hubungan kedua negara juga memiliki fondasi historis dan budaya yang telah berkembang selama puluhan tahun. Pertemuan di sela agenda BRICS dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi perkembangan kerja sama yang sudah berjalan sekaligus membuka peluang baru. Kedekatan hubungan pada tingkat pemimpin diharapkan dapat mempercepat implementasi berbagai kesepakatan konkret.
Bagi Indonesia, isu ekonomi menjadi salah satu kepentingan utama dalam forum BRICS. Pemerintah berupaya memperluas pasar ekspor sekaligus menarik investasi yang dapat mendukung industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja. Negara-negara anggota BRICS mempunyai pasar besar dan kebutuhan terhadap berbagai komoditas, produk manufaktur, energi, serta layanan digital. Indonesia dapat memanfaatkan forum tersebut untuk memperkuat hubungan dagang sekaligus mendorong investasi pada sektor bernilai tambah. Hilirisasi sumber daya alam juga menjadi salah satu agenda pembangunan yang membutuhkan modal dan teknologi dalam jumlah besar. Kerja sama dengan berbagai mitra dapat membantu Indonesia meningkatkan nilai tambah produksi tanpa hanya bergantung pada ekspor bahan mentah.
Pembahasan mengenai ketahanan energi juga berpotensi menjadi bagian penting dalam pertemuan para pemimpin. Indonesia membutuhkan pasokan energi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus menjalankan transisi menuju sumber energi yang lebih bersih. Negara-negara BRICS memiliki karakter energi yang sangat beragam, mulai dari produsen minyak dan gas hingga negara dengan kapasitas energi terbarukan yang besar. Keragaman tersebut membuka peluang kerja sama dalam investasi, teknologi, infrastruktur, dan pengembangan sumber energi baru. Pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan hubungan tersebut untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber tertentu. Namun, setiap kerja sama tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan domestik dan target pembangunan jangka panjang.
Ketahanan pangan menjadi bidang lain yang relevan bagi Indonesia dan India. Kedua negara mempunyai sektor pertanian besar dan menghadapi tantangan menjaga pasokan pangan bagi populasi yang sangat besar. Perubahan iklim, gangguan rantai pasok, dan gejolak harga komoditas global membuat kerja sama pangan semakin penting. Pertukaran teknologi pertanian, pengelolaan produksi, pengembangan pupuk, hingga perdagangan komoditas dapat menjadi bagian dari hubungan kedua negara. BRICS memberikan ruang tambahan untuk membicarakan persoalan tersebut dalam konteks yang lebih luas. Kolaborasi antarnegara berkembang diharapkan dapat membantu menciptakan rantai pasok yang lebih tahan terhadap berbagai tekanan global.
KTT BRICS juga menjadi forum penting untuk membicarakan reformasi tata kelola internasional. Indonesia selama ini mendorong agar negara berkembang memperoleh ruang yang lebih besar dalam pengambilan keputusan pada berbagai institusi global. Perubahan struktur ekonomi dunia membuat kontribusi negara-negara berkembang semakin besar, sementara sejumlah lembaga internasional masih mencerminkan keseimbangan kekuatan pada masa sebelumnya. BRICS menjadi salah satu wadah untuk menyuarakan kebutuhan reformasi tersebut. Namun, Indonesia tetap mempunyai kepentingan menjaga hubungan konstruktif dengan berbagai negara di luar BRICS. Pendekatan bebas aktif membuat Jakarta dapat terlibat dalam berbagai forum tanpa harus menempatkan diri dalam persaingan blok.
Dalam bidang keuangan, kerja sama antaranggota BRICS juga menjadi perhatian karena negara-negara tersebut terus mencari cara memperkuat transaksi dan pembiayaan pembangunan. Penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral menjadi salah satu instrumen yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu pada transaksi lintas negara. Indonesia sendiri telah mengembangkan mekanisme transaksi mata uang lokal dengan sejumlah mitra. Penguatan sistem pembayaran lintas batas juga dapat membantu menurunkan biaya transaksi bagi dunia usaha. Meski demikian, perubahan dalam sistem keuangan internasional membutuhkan kesiapan regulasi, infrastruktur, dan stabilitas makroekonomi. Karena itu, setiap langkah perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kepentingan perekonomian nasional.
Sambutan hangat Modi terhadap Prabowo juga memberikan pesan mengenai pentingnya Indonesia bagi India dalam hubungan regional maupun global. Sebagai dua negara besar di kawasan, keduanya memiliki kepentingan menjaga stabilitas Indo-Pasifik sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi. India mempunyai pasar yang besar bagi berbagai produk Indonesia, sementara Indonesia memiliki posisi strategis sebagai pusat ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Hubungan yang semakin erat dapat membuka peluang investasi dua arah serta memperkuat konektivitas antara Asia Selatan dan Asia Tenggara. KTT BRICS memberikan momentum untuk membawa hubungan tersebut menuju kerja sama yang semakin konkret. Hasil pertemuan nantinya akan dinilai dari kemampuan kedua negara menerjemahkan komunikasi politik menjadi program yang memberikan manfaat nyata.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam KTT BRICS di India pada akhirnya mempertegas upaya Indonesia memperluas peran dalam diplomasi ekonomi dan politik global. Sambutan hangat Narendra Modi menunjukkan hubungan kedua pemimpin sekaligus kedekatan strategis yang terus dibangun antara Indonesia dan India. Sebagai anggota penuh BRICS, Indonesia mempunyai ruang lebih besar untuk memperjuangkan kepentingan negara berkembang dalam isu perdagangan, investasi, energi, pangan, pembiayaan pembangunan, dan reformasi tata kelola internasional. Pada saat yang sama, pemerintah tetap mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif dan hubungan dengan berbagai mitra di luar kelompok tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan keikutsertaan Indonesia menghasilkan kerja sama konkret yang memberikan manfaat terhadap perekonomian nasional. KTT di India pun menjadi salah satu momentum bagi Prabowo untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang aktif menjembatani kepentingan berbagai kekuatan di tengah perubahan tatanan global.