Jakarta, 19 Oktober 2026 – Pebulu tangkis tunggal putri Korea Selatan, An Se Young, resmi mencatatkan sejarah baru setelah melampaui rekor gelar juara yang selama ini dipegang legenda bulu tangkis Indonesia, Susy Susanti. Keberhasilan tersebut diraih setelah An Se Young menjuarai Denmark Open 2026 yang berlangsung di Odense, Denmark, Minggu (18/10/2026). Kemenangan itu membuat pemain berusia 24 tahun tersebut mengoleksi 47 gelar internasional sepanjang kariernya. Jumlah tersebut melewati pencapaian Susy Susanti yang sebelumnya memegang rekor dengan 46 gelar. Berdasarkan penghitungan gelar internasional yang diakui Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), An Se Young kini menjadi tunggal putri dengan koleksi gelar terbanyak dalam sejarah pencatatan tersebut.
Keberhasilan An Se Young memecahkan rekor terjadi setelah menjalani pertandingan final yang berlangsung sengit menghadapi wakil Jepang, Akane Yamaguchi. Dalam pertandingan tersebut, An Se Young harus bekerja keras selama tiga gim sebelum memastikan kemenangan dengan skor 21-23, 21-14, dan 21-18. Gim pertama berjalan ketat karena kedua pemain saling bergantian mengambil keunggulan hingga memasuki poin kritis. Yamaguchi berhasil memanfaatkan momentum untuk merebut gim pembuka melalui pertarungan deuce. Namun, An Se Young tidak kehilangan konsentrasi dan mampu meningkatkan kualitas permainannya pada dua gim berikutnya. Ketahanan fisik serta kemampuan membaca arah serangan lawan menjadi faktor penting dalam keberhasilannya membalikkan keadaan.
Pertandingan semakin menegangkan ketika An Se Young sempat mengalami masalah pada pergelangan kaki kanannya dalam gim penentuan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena pemain Korea Selatan itu terlihat beberapa kali memperhatikan bagian kakinya saat pertandingan berlangsung. Yamaguchi bahkan sempat memimpin pada fase penting gim ketiga dan berpeluang menghentikan dominasi rivalnya. Akan tetapi, An Se Young menunjukkan daya juang tinggi dengan merebut sejumlah poin secara beruntun untuk membalikkan keadaan. Setelah kembali unggul, ia mampu mempertahankan tekanan hingga memastikan kemenangan dengan skor 21-18. Hasil tersebut sekaligus mengantarkannya mempertahankan gelar Denmark Open dan mencatatkan pencapaian bersejarah dalam karier profesionalnya.
Rekor 47 gelar yang kini dimiliki An Se Young menjadi tonggak penting karena sebelumnya Susy Susanti memimpin daftar peraih gelar tunggal putri terbanyak selama hampir tiga dekade. Legenda Indonesia tersebut mengumpulkan 46 gelar internasional sebelum mengakhiri karier profesionalnya pada 1997. Susy dikenal sebagai salah satu pemain terbaik dunia berkat berbagai prestasi besar, termasuk medali emas Olimpiade Barcelona 1992. Ia juga berhasil menjuarai berbagai turnamen bergengsi dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan bulu tangkis Indonesia. Dalam daftar penghitungan gelar internasional tersebut, Carolina Marin dari Spanyol berada di posisi berikutnya dengan koleksi 39 gelar. Meski rekor jumlah gelar telah terlampaui, pencapaian Susy tetap memiliki tempat penting dalam sejarah olahraga Indonesia.
Kehebatan An Se Young semakin terlihat dari konsistensi penampilannya sepanjang musim kompetisi 2026. Pemain yang menempati peringkat satu dunia tersebut telah mengumpulkan sembilan gelar individu sepanjang tahun ini, termasuk keberhasilan mempertahankan medali emas tunggal putri Asian Games 2026. Ia juga sukses meraih gelar juara dunia serta sejumlah turnamen bergengsi dalam kalender internasional. Dominasi tersebut semakin mengesankan karena An Se Young hanya mengalami satu kekalahan pertandingan sepanjang musim 2026. Kekalahan itu terjadi ketika menghadapi Wang Zhiyi dari China pada final All England Open pada Maret lalu. Catatan tersebut memperlihatkan tingkat konsistensi yang sangat tinggi dalam menghadapi persaingan tunggal putri dunia.
Selain mengoleksi gelar, An Se Young juga mempertahankan posisinya sebagai pemain nomor satu dunia selama 105 pekan berturut-turut. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilannya bukan hanya berasal dari penampilan dalam satu atau dua turnamen, melainkan hasil konsistensi selama beberapa musim. Pada 2025, ia bahkan mampu memenangkan 11 gelar dalam satu musim, menyamai catatan yang pernah dibuat pemain tunggal putra Jepang, Kento Momota. Kini, dengan sembilan gelar sepanjang 2026, An Se Young memiliki kesempatan untuk kembali mendekati pencapaian tersebut. Sejumlah turnamen penting masih menantinya sebelum kalender kompetisi tahun ini berakhir. Meski demikian, keberhasilan mempertahankan performa juga bergantung pada kondisi fisik serta kemampuannya menghadapi tekanan pertandingan.
Pencapaian An Se Young turut memperlihatkan perkembangan persaingan bulu tangkis tunggal putri yang semakin ketat. Pemain seperti Akane Yamaguchi, Wang Zhiyi, dan Chen Yufei tetap menjadi lawan tangguh yang mampu memberikan perlawanan dalam berbagai turnamen. Namun, An Se Young memiliki keunggulan melalui kombinasi pertahanan solid, ketahanan fisik, dan kemampuan mengubah pola permainan sesuai situasi pertandingan. Kualitas tersebut membuatnya sering mampu bangkit meskipun lebih dahulu kehilangan gim atau tertinggal dalam perolehan angka. Keberhasilannya menghadapi Yamaguchi pada final Denmark Open menjadi salah satu contoh kemampuan tersebut. Persaingan antarpemain papan atas juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pertandingan tunggal putri di tingkat internasional.
Keberhasilan An Se Young melampaui rekor Susy Susanti menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah bulu tangkis dunia pada 2026. Dengan usia yang masih 24 tahun, pemain Korea Selatan tersebut memiliki kesempatan untuk menambah koleksi gelar dan memperpanjang catatan prestasinya. Meski demikian, rekor 47 gelar merupakan penghitungan berdasarkan kategori dan periode pencatatan yang digunakan BWF, sehingga tidak mencakup seluruh jenis kejuaraan dalam sejarah bulu tangkis. Prestasi Susy Susanti tetap menjadi warisan besar bagi olahraga Indonesia, terutama melalui keberhasilannya mengharumkan nama bangsa di panggung Olimpiade. Sementara itu, An Se Young kini memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya sebagai salah satu pemain paling sukses di sektor tunggal putri. Perhatian publik selanjutnya tertuju pada kemampuannya mempertahankan dominasi dan menciptakan rekor baru dalam turnamen-turnamen mendatang.