Jakarta, 31 Agustus 2026 – Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Eko Hadi Santoso mendapat kenaikan pangkat dari Brigadir Jenderal Polisi menjadi Inspektur Jenderal Polisi. Kenaikan pangkat tersebut menandai peningkatan jenjang karier Eko Hadi di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia setelah sebelumnya dipercaya memimpin Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim. Eko Hadi sendiri mulai menjabat sebagai Dirtipidnarkoba pada 2025 setelah ditunjuk menggantikan Irjen Mukti Juharsa. Posisi tersebut menempatkannya pada salah satu direktorat yang memiliki peran penting dalam penanganan kejahatan narkotika, termasuk membongkar jaringan peredaran gelap berskala nasional dan internasional. Perubahan pangkat tersebut sekaligus menjadi bagian dari dinamika pembinaan karier perwira tinggi di tubuh Polri.
Sebelum dipercaya memimpin Direktorat Tindak Pidana Narkoba, Eko Hadi dikenal memiliki pengalaman panjang dalam bidang reserse dan penanganan perkara keamanan. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian dan sebelumnya menjalani berbagai penugasan strategis di lingkungan Polri. Pengalaman tersebut mencakup tugas di lapangan maupun jabatan yang berkaitan dengan pengawasan serta evaluasi kegiatan operasional. Eko Hadi juga pernah menjabat sebagai Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok ketika masih berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari perjalanan karier yang membawanya ke berbagai posisi strategis hingga akhirnya dipercaya menangani pemberantasan tindak pidana narkoba di tingkat nasional.
Penunjukan Eko Hadi sebagai Dirtipidnarkoba pada 2025 sempat menjadi perhatian karena latar belakangnya lebih banyak dikenal melalui penanganan perkara terorisme dan reserse. Pergeseran penugasan tersebut memperlihatkan kebutuhan Polri terhadap pengalaman penyidikan dalam menghadapi jaringan narkotika yang semakin kompleks. Penanganan kejahatan narkoba tidak hanya membutuhkan kemampuan mengungkap pelaku lapangan, tetapi juga menelusuri jaringan, aliran dana, pemasok, hingga pengendali yang berada di balik distribusi. Dalam menjalankan tugasnya, Eko Hadi kemudian memimpin berbagai pengungkapan perkara narkotika yang melibatkan sejumlah wilayah dan modus operandi berbeda. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam menjalankan fungsi Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim sebagai salah satu ujung tombak penegakan hukum terhadap peredaran narkotika.
Sepanjang 2026, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim di bawah kepemimpinan Eko Hadi juga menangani sejumlah perkara besar. Pengungkapan jaringan narkotika mencakup penyitaan sabu dalam jumlah puluhan kilogram hingga penindakan terhadap berbagai jenis zat yang beredar di masyarakat. Pada Agustus 2026, Bareskrim juga mengungkap peredaran 86,3 kilogram sabu beserta ribuan butir ekstasi yang berkaitan dengan jaringan antardaerah. Sebelumnya, aparat juga mengungkap peredaran produk permen yang mengandung narkotika serta menggagalkan distribusi etomidate dalam jumlah besar. Rangkaian penindakan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pemberantasan narkoba semakin berkembang, baik dari sisi jenis zat yang beredar maupun pola distribusi yang digunakan oleh jaringan kejahatan.
Kenaikan pangkat menjadi Irjen Pol menempatkan Eko Hadi pada jenjang perwira tinggi bintang dua yang memiliki tanggung jawab semakin besar dalam struktur kepolisian. Dalam konteks jabatannya sebagai Dirtipidnarkoba, peningkatan pangkat tersebut juga berlangsung ketika persoalan narkotika masih menjadi salah satu tantangan utama penegakan hukum di Indonesia. Jaringan peredaran narkoba kini tidak hanya memanfaatkan jalur darat dan laut, tetapi juga menggunakan berbagai metode komunikasi serta sistem distribusi yang semakin sulit dideteksi. Kondisi tersebut membuat aparat harus memperkuat kemampuan penyelidikan, pertukaran informasi, pelacakan transaksi, dan koordinasi dengan berbagai instansi. Penguatan kepemimpinan di tingkat direktorat menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga efektivitas operasi pemberantasan jaringan narkotika.
Di sisi lain, pengalaman Eko Hadi dalam menangani perkara dengan karakteristik kejahatan terorganisasi dapat menjadi modal dalam menghadapi jaringan narkoba yang memiliki struktur kompleks. Penindakan terhadap jaringan narkotika tidak berhenti pada penangkapan kurir atau pengedar di lapangan karena aparat perlu mengembangkan perkara hingga menemukan pihak yang mengendalikan kegiatan tersebut. Pendekatan tersebut membutuhkan penyidikan yang berlapis, termasuk pemeriksaan terhadap tersangka, saksi, barang bukti, serta penelusuran hubungan antaranggota jaringan. Selain penegakan hukum, pengungkapan jaringan juga berkaitan dengan upaya memutus rantai distribusi agar narkotika tidak kembali beredar setelah satu kelompok berhasil ditindak. Karena itu, kepemimpinan Dirtipidnarkoba memiliki peran penting dalam menentukan arah strategi penanganan perkara narkotika di tingkat nasional.
Kenaikan pangkat Eko Hadi juga dapat dipandang sebagai bagian dari dinamika organisasi Polri yang menempatkan perwira berdasarkan kebutuhan dan rekam pengalaman penugasan. Dalam institusi kepolisian, jenjang kepangkatan tidak hanya berkaitan dengan penghargaan atas perjalanan karier, tetapi juga membawa konsekuensi terhadap tanggung jawab yang harus dijalankan. Seorang perwira tinggi dituntut menjaga profesionalisme, integritas, serta kemampuan memimpin personel dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan. Bagi Eko Hadi, peningkatan pangkat tersebut berlangsung ketika Direktorat Tindak Pidana Narkoba menghadapi tuntutan untuk meningkatkan pengungkapan jaringan sekaligus menjaga kualitas proses penegakan hukum. Kinerja institusi nantinya akan tetap menjadi ukuran penting dalam melihat efektivitas kepemimpinan setelah kenaikan pangkat tersebut.
Pemberantasan narkoba juga membutuhkan koordinasi lintas lembaga karena jaringan peredarannya dapat melibatkan wilayah dan negara yang berbeda. Bareskrim perlu bekerja sama dengan kepolisian daerah, Badan Narkotika Nasional, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta mitra penegak hukum dari negara lain apabila perkara memiliki keterkaitan internasional. Pertukaran informasi menjadi semakin penting ketika jaringan menggunakan jalur perdagangan resmi maupun tidak resmi untuk memasukkan narkotika ke Indonesia. Kemampuan mengembangkan informasi awal menjadi penyidikan yang lengkap akan menentukan keberhasilan aparat dalam mengungkap jaringan hingga ke tingkat pengendali. Tantangan tersebut membuat pengalaman dan kemampuan koordinasi pimpinan menjadi semakin penting dalam menjalankan tugas pemberantasan narkotika.
Dengan kenaikan pangkat menjadi Irjen Pol, Eko Hadi Santoso kini menghadapi tanggung jawab yang semakin besar untuk memperkuat pemberantasan tindak pidana narkoba di Indonesia. Pengalaman di bidang reserse, sejumlah penugasan strategis, serta keterlibatannya dalam pengungkapan perkara narkotika menjadi bekal dalam menjalankan tugas tersebut. Perkembangan kasus narkoba sepanjang 2026 menunjukkan bahwa jaringan peredaran terus mencari cara baru untuk memasukkan dan mendistribusikan zat terlarang kepada masyarakat. Karena itu, peningkatan kapasitas penyidikan, penguatan koordinasi, serta penelusuran terhadap jaringan dan aliran dana akan tetap menjadi bagian penting dalam agenda pemberantasan narkoba. Kenaikan pangkat Eko Hadi pada akhirnya bukan hanya menandai perkembangan karier pribadi, tetapi juga menempatkannya pada tuntutan yang lebih besar untuk memastikan penanganan kejahatan narkotika berjalan semakin efektif, profesional, dan berkelanjutan.