Jakarta, 22 September 2026 – Seorang remaja asal Maroko berusia 17 tahun mempertaruhkan nyawanya dengan bersembunyi di bagian bawah bus yang membawa rombongan klub Real Valladolid dari Ceuta menuju daratan utama Spanyol. Remaja tersebut bertahan di sekitar poros roda belakang kendaraan ketika bus menyeberangi Selat Gibraltar menggunakan feri dan kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalan raya. Ia berhasil menempuh perjalanan lebih dari 100 kilometer sebelum kondisinya melemah dan meminta pertolongan. Insiden terjadi ketika rombongan Real Valladolid pulang setelah menjalani pertandingan Segunda División melawan AD Ceuta. Remaja itu akhirnya ditemukan dalam kondisi kelelahan di sekitar Jerez de la Frontera.
Peristiwa bermula setelah Real Valladolid menyelesaikan pertandingan di Stadion Alfonso Murube, Ceuta. Rombongan kemudian bergerak menuju pelabuhan untuk menaiki feri menuju Algeciras. Tanpa diketahui anggota tim, remaja tersebut berhasil masuk ke bagian bawah bus dan bersembunyi di sekitar poros roda. Keberadaannya tidak terdeteksi ketika kendaraan menjalani pemeriksaan sebelum memasuki feri. Ia pun tetap berada dalam posisi berbahaya tersebut selama perjalanan laut yang berlangsung sekitar 45 menit. Setelah tiba di Algeciras, bus kembali bergerak melalui jalan raya menuju Valladolid.
Remaja tersebut masih bertahan di bawah kendaraan ketika bus telah menempuh perjalanan lebih dari satu jam dari Algeciras. Kondisinya semakin melemah ketika rombongan berada di sekitar Jerez de la Frontera, Provinsi Cádiz. Pada titik tersebut, ia mulai berteriak meminta pertolongan dari bagian bawah kendaraan. Sejumlah pemain mendengar suara dan teriakan yang tidak biasa sehingga meminta rombongan memeriksa sumbernya. Bus kemudian berhenti di sebuah tempat peristirahatan. Anggota rombongan terkejut ketika mengetahui ada seseorang yang selama perjalanan bersembunyi di bagian bawah kendaraan.
Dokter tim utama Real Valladolid, Alberto López Moreno, langsung memberikan pertolongan kepada remaja tersebut. Kondisinya masih sadar, tetapi ia mengalami kelelahan berat dan mengeluhkan sakit pada bagian punggung. Anggota tim memberinya air minum, makanan, dan pakaian sambil menunggu petugas datang. Mereka juga berusaha membuat remaja tersebut tidak banyak bergerak sampai pemeriksaan medis dilakukan. Ambulans kemudian tiba bersama petugas Guardia Civil Spanyol. Setelah diperiksa, remaja tersebut dilaporkan hanya mengalami memar ringan dan kelelahan berat serta berada dalam kondisi kesehatan yang relatif baik.
Komunikasi dengan remaja tersebut sempat menjadi kendala karena ia tidak dapat berbicara dalam bahasa Spanyol maupun Prancis. Rombongan Real Valladolid kemudian menggunakan aplikasi penerjemah bahasa Arab melalui telepon seluler untuk mengetahui identitas dan tujuannya. Dari komunikasi tersebut diketahui bahwa ia berusia 17 tahun dan berasal dari Maroko. Remaja itu mengatakan ingin menuju pusat penampungan anak di bawah umur di Algeciras. Rombongan juga mendapatkan bantuan seorang penerjemah untuk berkomunikasi lebih lanjut. Setelah petugas tiba, penanganan remaja tersebut diserahkan kepada Guardia Civil sesuai prosedur perlindungan anak di bawah umur.
Perjalanan yang dilakukan remaja tersebut memiliki risiko sangat tinggi. Ia harus bertahan di ruang sempit dekat roda dan bagian mekanis kendaraan yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Selain risiko terjatuh, posisi tersebut membuatnya terpapar getaran, panas, dan kondisi perjalanan yang sulit selama berjam-jam. Remaja itu juga harus mempertahankan posisinya ketika bus berada di atas feri selama sekitar 45 menit. Setelah menyeberang ke Algeciras, ia kembali bertahan lebih dari 100 kilometer melalui jalan raya. Kondisinya yang mulai kehilangan tenaga akhirnya membuatnya memilih meminta pertolongan.
Wakil Presiden Real Valladolid Jorge Santiago menggambarkan kejadian tersebut sebagai pengalaman yang mengejutkan bagi seluruh rombongan. Sementara Direktur Olahraga Real Valladolid Víctor Orta mengapresiasi tindakan para pemain yang segera membantu setelah mengetahui keberadaan remaja itu. Para pemain disebut langsung memberikan pertolongan tanpa menunggu petugas tiba. Gelandang Iván Alejo dilaporkan menjadi salah satu orang pertama yang mendengar teriakan dari bagian bawah bus dan kemudian memberi tahu rekan-rekannya. Respons cepat tersebut memungkinkan kendaraan segera dihentikan dan remaja mendapatkan pertolongan. Rombongan baru melanjutkan perjalanan setelah penanganan diserahkan kepada aparat.
Real Valladolid sendiri baru saja menjalani pertandingan tandang menghadapi AD Ceuta sebelum kejadian tersebut. Pertandingan berakhir dengan skor imbang 1-1 dan rombongan langsung meninggalkan Ceuta setelah laga selesai. Tim melakukan perjalanan menggunakan dua bus, dengan pemain berada di kendaraan tempat remaja tersebut ditemukan. Setelah proses pertolongan dan pemeriksaan selesai, perjalanan menuju Valladolid kembali dilanjutkan. Rombongan akhirnya tiba di kota Valladolid sekitar pukul 08.00 waktu setempat pada Senin. Perjalanan pulang tersebut akhirnya lebih banyak mendapat perhatian karena kejadian kemanusiaan yang dialami rombongan dibandingkan hasil pertandingan.
Kasus serupa bukan pertama kali terjadi pada kendaraan yang menyeberang dari Ceuta menuju daratan utama Spanyol. Aparat setempat menyebut terdapat migran yang mencoba menggunakan truk, bus, maupun kendaraan lain untuk melewati jalur penyeberangan. Ceuta merupakan wilayah Spanyol di pesisir Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Maroko sehingga menjadi salah satu titik migrasi menuju wilayah Uni Eropa. Upaya bersembunyi pada kendaraan membawa risiko cedera berat hingga kematian. Dalam kasus terbaru ini, remaja tersebut beruntung mampu meminta bantuan ketika kondisinya mulai melemah. Guardia Civil selanjutnya mengambil alih penanganannya dan menjalankan prosedur yang berlaku bagi anak di bawah umur.
Perjalanan ekstrem remaja Maroko tersebut memperlihatkan besarnya risiko yang diambil sebagian migran untuk mencapai daratan utama Spanyol. Ia berhasil melewati pemeriksaan, menyeberangi Selat Gibraltar, dan bertahan lebih dari 100 kilometer di jalan raya dengan bersembunyi di bawah bus Real Valladolid. Keselamatannya akhirnya bergantung pada kemampuannya meminta pertolongan ketika tenaga mulai habis serta respons cepat anggota rombongan. Pemain dan staf klub memberikan makanan, air, pakaian, serta pertolongan medis awal sebelum menyerahkannya kepada petugas. Remaja tersebut kemudian berada dalam penanganan otoritas Spanyol untuk mendapatkan perlindungan lebih lanjut. Insiden itu sekaligus menyoroti bahaya besar yang menyertai perjalanan migrasi tidak teratur dari Afrika Utara menuju Eropa.