Jakarta, 27 Mei 2026 – Upaya pemberangkatan sejumlah calon pekerja migran Indonesia atau CPMI ke Kamboja berhasil digagalkan petugas di Bandara Internasional Soekarno-Hatta International Airport setelah mereka diduga akan dipekerjakan sebagai admin judi online dengan modus perjalanan wisata atau liburan. Petugas mencurigai keberangkatan para calon pekerja tersebut karena ditemukan ketidaksesuaian antara tujuan perjalanan, dokumen, serta keterangan yang diberikan saat pemeriksaan di bandara. Setelah dilakukan pendalaman, para CPMI diketahui diduga akan dikirim untuk bekerja di sektor ilegal yang berkaitan dengan operasional judi daring di luar negeri. Kasus ini kembali memperlihatkan maraknya praktik perekrutan tenaga kerja ilegal dengan iming-iming pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri yang menyasar masyarakat Indonesia. Aparat dan instansi terkait kini terus mendalami kemungkinan adanya jaringan perekrut yang terlibat dalam proses pemberangkatan tersebut.
Menurut keterangan petugas, para calon pekerja migran awalnya mengaku hendak melakukan perjalanan wisata ke Kamboja. Namun setelah pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan indikasi bahwa keberangkatan tersebut berkaitan dengan tawaran pekerjaan sebagai operator atau admin platform judi online yang saat ini marak beroperasi di sejumlah negara Asia Tenggara. Beberapa korban disebut memperoleh tawaran melalui media sosial dan komunikasi daring dengan janji gaji besar serta fasilitas kerja yang menarik. Dalam banyak kasus, korban baru menyadari risiko pekerjaan setelah tiba di negara tujuan dan menghadapi kondisi kerja yang tidak sesuai dengan janji awal. Oleh sebab itu, petugas imigrasi bersama aparat perlindungan pekerja migran terus meningkatkan pengawasan terhadap keberangkatan warga negara Indonesia yang dicurigai menjadi korban perdagangan orang atau eksploitasi tenaga kerja.
Pengamat ketenagakerjaan menjelaskan bahwa praktik perekrutan pekerja migran ilegal dengan modus wisata atau liburan semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pelaku biasanya memanfaatkan kebutuhan ekonomi dan minimnya informasi masyarakat mengenai prosedur kerja resmi di luar negeri. Tawaran pekerjaan di sektor digital seperti admin judi online sering dipasarkan dengan janji penghasilan besar, padahal banyak di antaranya berkaitan dengan aktivitas ilegal dan berisiko tinggi bagi pekerja. Tidak sedikit pekerja migran yang akhirnya mengalami tekanan, pembatasan kebebasan, hingga ancaman keselamatan ketika sudah berada di negara tujuan. Oleh sebab itu, edukasi mengenai migrasi aman dan penguatan pengawasan jalur keberangkatan dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah semakin banyak warga menjadi korban eksploitasi.
Di sisi lain, pengamat sosial menilai perkembangan industri judi online lintas negara telah menciptakan bentuk baru perdagangan tenaga kerja ilegal yang memanfaatkan teknologi digital. Perekrutan melalui media sosial dan aplikasi pesan membuat jaringan perekrut lebih mudah menjangkau calon korban dari berbagai daerah tanpa harus bertemu langsung. Banyak masyarakat yang tergiur karena kondisi ekonomi dan minimnya kesempatan kerja sehingga tidak melakukan pengecekan lebih lanjut terhadap legalitas pekerjaan yang ditawarkan. Pemerintah dan aparat penegak hukum disebut perlu memperkuat koordinasi lintas negara untuk menindak jaringan perekrut dan perusahaan ilegal yang memanfaatkan pekerja migran Indonesia. Selain penegakan hukum, pendampingan dan perlindungan terhadap calon pekerja migran juga dianggap sangat penting agar masyarakat tidak mudah menjadi korban modus penipuan berkedok pekerjaan luar negeri.
Pencegahan keberangkatan CPMI yang diduga akan dijadikan admin judi online di Kamboja kembali menjadi peringatan serius mengenai bahaya perdagangan tenaga kerja ilegal di era digital. Modus perjalanan wisata yang digunakan perekrut menunjukkan bahwa jaringan pelaku terus mencari cara baru untuk mengelabui korban dan aparat pengawasan. Banyak masyarakat berharap pemerintah dapat terus memperkuat edukasi, pengawasan, dan perlindungan terhadap pekerja migran agar kasus serupa tidak terus berulang. Di tengah meningkatnya tawaran pekerjaan luar negeri melalui media sosial, kewaspadaan masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk menghindari jebakan pekerjaan ilegal yang berisiko tinggi. Dengan kerja sama antara aparat, pemerintah, dan masyarakat, upaya melindungi warga negara Indonesia dari eksploitasi tenaga kerja di luar negeri diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan menyeluruh.